WELCOME TO MY BLOG

blog ini 'sedikit' berbeda dengan blog saya sebelumnya. masih blog abal-abal dengan beragam makna hahaaa...

enjoy.

salam manis dari tikii yang selalu manis...

Selasa, 07 Juni 2011

LOVE FOR A CHILD

Salammmmmm sendal jepitttt,

Hari ini saya menemukan lagi peristiwa yang agak miris, bukan 'agak' lagi mungkin, tapi miris banget. Dan kali ini akan coba saya sharingkan di entri ini, dalam blog abal-abal ini.

LOVE FOR A CHILD

Sebenernya ga tau juga sih, apakah judul yang satu ini tepat ato tidak, tapi saya hanya berusaha ngepas-ngepasin ajaaa sih, semoga bisa beneran pas.

Gimana sih perasaan kita, saya, dan kalian semua saat ngeliat anak kecil yang lucu nan imut-imut? Pasti kita akan ngerasa seneng, gemes mungkin sama anak kecil itu. Tapi apa yang terjadi kalo kita melihat anak kecil yang harusnya masih bermain dengan bebasnya, yang  belum punya gigi utuh, yang masih nanya ini itu sama orangtuanya malah terlihat ngamen di bus kota? Mungkin kita terbiasa melihat anak-anak kecil ngamen diperempatan lampu merah atau ditempat-tempat lain.

Sebenarnya ini sudah kali ke empat saya melihat adik kecil ini ngamen dibus kota, dan sekali saya melihatnya mengemis di gereja tempat saya beribadah. Si adik ini masih ompong, cadel, cantik sih sebenernya, kulitnya kuning, rambutnya lurus sebahu, cantik banget, hanya saja dia tidak punya kesempatan untuk membenahi rambutnya, pakaiannya, sehingga semua yang menempel pada tubuhnya terlihat berantakan, so ugly.

Anehnya, saya selalu melihat si ibu menemani anaknya ini. Pertanyaan saya, kenapa bukan ibuknya aja yang kerja, toh ngamen juga bukan pekerjaan yang hina, meskipun sering dianggap remeh orang-orang. Kenapa harus si adik kecil ini yang nyanyi-nyanyi di bus kota ato ngemis-ngemis ditempat-tempat lain? Si ibu ini ngapain?? Apakah dengan mempekerjakan anaknya akan menghasilkan uang yang lebih banyak, dengan mendapat belas kasihan dari orang-orang disekitarnya?

Kasian, saya membatin.

Saya sendiri ga mau, malas membayangkan saya menjadi si adik kecil itu. Diusianya saat ini, mungkin harusnya dia sudah piawai menyanyikan lagu balonku, pelangi, hujan, cicak cicak didinding, atau lagu anak-anak lainnya, tapi si bocah malang itu justru sangat hafal lagu-lagu orang dewasa yang kadang liricnya ga mendidik sama sekali. Apakah karena penumpang bus kota itu rata-rata bapak-bapak atau ibu-ibu makanya dia piawai sekali menyanyikan lagu macam begitu untuk menghibur kami semua?

Saya pribadi ga tau persis lagu siapa yang dibawakan si adik itu, tapi kira-kira begini liriknya..
'saya ga sudi punya laki' tukang mabuk. laki tukang mabuk biasanya enteng tangan'

Gimana bisa dia belajar menyanyikan lagu abal-abal begitu??
Umurnya ajaaa masih kecil, uda nyanyiin lagu untuk orang dewasa. Kalo yang ini, saya sedikit banyak sudah memahami jawabannya, karena sudah sangat jarang orang dewasa yang mau menulis lagu untuk anak-anak. Semua lagu-lagu yang dibuat jaman sekarang cuma satu temanya, C.I.N.T.A titik, ga pake koma, ga pake lama. Musisi-musisi itu dengan mudahnya dan dengan cepatnya menuliskan lagu cinta, sementara lagu untuk anak-anak, nanti ajaa deh kalo uda punya anak.


Dan tadi dalam perjalanan saya kembali ke Salatiga, saya mendapati si adik kecil itu lagi, dan sudah pasti saya melihat si ibu hanya diam mengawasi anaknya, ckckckckk, kok ya ada toh ibu yang tega macam itu, saya mengelus dada perlahan. Jangan sampe besok anakku kayak begitu, Tuhan, saya berdoa dalam hati. Lalu mulailah bibir mungil itu mengucapkan salam dan terimakasih atas kesempatan yang diberikan padanya, (kayak penyanyi di kondangan) Jujur, siang tadi sebenernya sumpek banget, udaranya panas, belum lagi saya menahan kesumpekan itu dengan duduk yang sangat sangat tidak nyaman, karena banyak penumpang yang terpaksa berdiri, saya pun terpaksa menahan dongkol yang amat sangat, gara-gara saya ga dapat patas pagi ini, jadi ya begitu deh, ngeliatin orang-orang berdiri, bergantungan pada palang didalam bus ekonomi, tapi Puji Tuhan saya masih dikasih duduk.

Si bocah kecil itu mulai mempesona penumpang-penumpang yang ada dengan lagunya, yang liriknya sudah saya tulis diatas tadi, tentunya dengan gaya anak-anak. Nyanyi lagu orang dewasa, tapi gaya dan suara, anak-anak banget. Dan terbukti, banyak sekali lembaran gambar Pattimura yang bisa peroleh dalam genggamannya, dan disetorkannya pada sang ibu. Kalo biasanya pengamen yang bergitar selalu dapat receh, si bocah ini dapat lembaran Patimurra, dan itu berlembar-lembar, bahkan mungkin lebih dari itu. Pinter juga nih si ibu, pikir saya. Mungkin kalau dia yang nyanyi nyanyi kayak bocah tadi, ga bakalan dia dapet segitu banyak rasa belas kasihan. Saya sendiri, memberinya selembar ribuan dan sebutir permen untuk si adik cantik yang malang itu.



Dalam kasus ini, siapa yang salah? Orangtua? anak? atau mungkin pemerintah?
Tidakkah orangtua itu tau, anak mereka masih terlalu kecil untuk melakukan hal-hal semacam itu?
Dan bukankah orangtua yang seharusnya menghidupi anak-anaknya?

Lalu bagaimana dengan anak-anak kecil yang mendapati orangtuanya tidak mendampingi mereka, atau bercerai, atau bahkan meninggal dunia. Dan bagaimana dengan orangtua yang mempekerjakan anaknya, tapi kadang juga menendang atau memukul atau menampar saat mereka mendapati anak mereka nakal.

Ada lagi cerita tentang Reno, anak dari si mbak yang biasanya bersih-bersih di kost tempat saya berteduh ini. Reno adalah anak sulung, adiknya Rama sering sekali main ke kamar saya atau kamar Zilpa untuk meminta permen atau jajanan lainnya, buat saya, wajar aja anak kecil minta jajan atau permen sama orang lain. Tapi yang ga wajar dimata saya adalah, saat saya melihat si mbak tersebut menarik Reno, sang kakak, dan menendangnya tepat ditengah-tengah kost kami. Beruntung, saat itu sepi sekali, saya yang baru selesai cuci tangan sempat melihat kejadian itu. Saya menatap ke arah si mbak yang sedang menendang, dan juga Reno yang tengah menangis meraung-raung dengan tatapan iba, kasian amat si Reno, tapi apa perlu dikasih tendangan seperti itu juga? Batin saya. Begitu si mbak menyadari kehadiran saya disekitar mereka, si mbak langsung melepaskan Reno, dan ganti menatap saya dengan tatapan yang aneh, saya ga ngerti apa maksud beliau menatap saya seperti itu. Sebenarnya saya ingin bertanya, atau melarang si mbak untuk menendang anak sulungnya itu, tapi saya pikir lagi, kayaknya percuma juga kalau saya menegur, toh tendangan itu tetap saja hinggap ditubuh Reno, dan saat saya memutuskan untuk masuk kekamar saya, si mbak masih menatap saya dengan tatapan yang aneh. Saya merasa terbiasa dengan tatapan itu, air muka yang selalu saya lihat tiap kali si mbak itu bersih-bersih, nyapu-nyapu dikost saya. Apakah beliau tidak sukacita saat bekerja?



love for a child.

Apakah benar ada cinta untuk anak seperti Reno, Rama, dan juga si bocah pengamen itu?
Tapi mungkin, Reno dan Rama jauh lebih beruntung dari si bocah pengamen itu. Reno masih bisa ke sekolah, meskipun selesai sekaloah Reno harus membantu ibunya, menjaga sang adik, Rama.

Saya bersyukur, saya terlahir, dan besar, tanpa harus melalui saat-saat sulit seperti bocah-bocah itu. Dan saya mengerti, mengapa mereka melakukan semuanya itu, karena keadaan ekonomi yang memaksa mereka, yang seharusnya mereka bisa mengecap kehidupan yang layak, tapi mereka justru ngamen, atau bahkan ngemis belas kasihan dari orang lain untuk tetap bisa makan hari ini. Meskipun kita mungkin ga bisa berbuat banyak hal untuk menolong mereka, tapi saya percaya, selembar uang ribuan yang kadang ga ada artinya untuk kita, sangat berarti untuk mereka. lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka, hal-hal kecil akan sangat berarti bagi mereka. Saya percaya, mereka mereka masih punya harapan untuk hidup yang lebih baik lagi, bukan pengamen atau pengemis kecil itu, tapi juga saya, kamu, kita...

Dibawah ini, saya cantumkan juga lirik lagu dari Jason Mraz, LOVE FOR A CHILD. Lagu ini sebetulnya mengenai seorang anak yang mendapati orangtuanya bercerai, miris banget ya, mungkin sedikit ga nyambung  dengan yang saya tulis diatas tadi, tapi yang ini dengan yang diatas itu sama benang merahnya, because, it was all about love... 

There's a picture on my kitchen wall
Looks like Jesus and his friends involved
There's a party getting started in the yard
There's a couple getting steamy in the car parked in the drive
Was I too young to see this with my eyes?

By the pool last night, apparently
The chemicals weren't mixed properly
You hit your head and then forgot your name
And then you woke up at the bottom by the drain
And now your altitude and memory's a shame

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I like to believe it was all about love for a child

And when the house was left in shambles
Who was there to handle all the broken bits of glass
Was it mom who put my dad out on his ass or the other way around
Well I'm far too old to care about that now

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I'd like to believe it was all about love for a child

It's kinda nice to work the floor since the divorce
I've been enjoying both my Christmases and my birthday cakes
And taking drugs and making love at far too young an age
And they never check to see my grades
What a fool I'd be to start complaining now

What about taking this empty cup and filling it up
With a little bit more of innocence
I haven't had enough, it's probably because when you're young
It's okay to be easily ignored
I'd love to believe it's all about love for a child

It was all about love...



take it slow. make it flow. let it glow..
salam manis dari tikii yang selalu manis

Rabu, 01 Juni 2011

Harus jadi SESUATU!

Salam sendal jepidd...

Saya masih ingat beberapa hari yang lalu, saya sharing sharing sama si mommy, saya lupa hari apa, tapi yang ga bakal saya lupa adalah apa yang mommy sharingkan, dan pelajaran apa yang bisa saya peroleh dari cerita-cerita saya dengan mommy.

Sore itu mommy bercerita mengenai betapa peliknya kehidupan orang-orang dewasa. Mengenai susahnya menjadi kepercayaan untuk orang lain, susahnya mencari sesuap nasi untuk bertahan hidup ditengah segala situasi yang mungkin saja kurang mengenakan.

Mommy bercerita mengenai seorang kerabat kami yang kerap mencurahkan isi hatinya sama mommy. Kerabat kami ini, seorang lelaki dewasa yang sangat lembut hatinya, meskipun kadang sikapnya agak begajulan kayak orang terminal. Sayang beribu sayang, kerabat kami ga bisa menghidupi istrinya, dia tidak bisa bekerja kembali setelah sebuah kecelakaan merusakan beberapa organ tubuh yang dimilikinya. Sebelum kecelakaan, meskipun dengan penghasilan yang tidak seberapa beliau mampu membiayai keluarganya. Dan saat ini, istri beliaulah yang bekerja. Sedih memang, mengingat beliau ini masih kerabat dekat kami, hubungannya teramat dekat dengan daddy atau pun mommy.

Masalah beliau tidak bekerja kembali, saya pikir masih oke-oke aja, ga menjadi masalah yang terlalu berat, karena ada alasan yang pasti, kenapa beliau ga bisa bekerja kembali, dan lagi istrinya pun mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Yang menjadi masalah disini adalah, batinnya yang mungkin tersiksa, dan pasti selalu ada pemikiran, "Masak istriku yang menghidupi aku?" tapi, keadaan yang menjawab semuanya. Keadaannya uda gitu, mau gimana lagi.

Yang saya ga habis pikir, ternyata si istri ini bisa tajam sekali kata-katanya, kalimat-kalimat yang dilontarkannya pada suaminya ga jarang menimbulkan luka dalam dihati suaminya. Meskipun awalnya cuma sekuil, tapi kalo terlampau sering, bukan secuil lagi dongg namanya. Sebelum kecelakaan, si istri tidak demikian, tapi setelah kecelakaan, tepatnya mungkin, setelah si istri merasa lelah bekerja seorang diri untuk menghidupi dirinya sendiri dan juga suaminya.

Saya mengelus dada, menghembuskan nafas berat mendengar cerita mommy, kayaknya kok impossible banget, ga mungkin banget deh kayaknya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, si istri beserta saudara-saudaranya pun juga kadang berlaku sama pada pasangan mereka, memuntahkan apa yang ada dalam pikiran mereka, tanpa berpikir lebih dulu, apakah kalimat mereka akan melukai yang mendengarnya atau tidak. 

Yang terakhir si suami itu cerita sama mommy, bahwa kalimat yang pernah dilontar istrinya, dan amat sangat dalam menyakiti hatinya adalah, 'saya pun bisa hidup tanpa kamu!'. Berat ratt ratttttt.. namun ini nyata, dan bukan nggak mungkin terjadi diseputar kita, dilingkungan kita, mungkin ga persis seperti itu ceritanya. 

Lalu saya berpikir, kalo laki-laki nggak bisa ngapa-ngapain aja diremehkan, apalagi wanitanya. ckckckckkkk. ngelus dada, sambil berdoa dan berharap, semoga dimasadepan saya tidak diremehkan, dan tidak ada yang perlu diremehkan. Mommy, dan daddy pun juga dari awal sudah menekankan bahwa saya HARUS JADI SESUATU biar saya ga diremehkan sama orang lain, apalagi sama pasangan saya nantinya. Bukan tidak mungkin, saya, anda, kamu, kita, akan dihargai bila kita bisa menjadi sesuatu dimasadepan, dan tidak terus menerus menggantungkan harapan pada orang tua, atau orang lain, sekalipun itu dengan pasangan kita nantinya. Tentunya, sesuatu yang bisa dibanggakan!

Dari jauh, saya cuma bisa berharap yang terbaik untuk kerabat dekat kami, yang ga bisa saya sebutkan namanya di web ini. Saya percayam, ada sesuatu dibalik ini semua. Katanya kan, "ada rahasia dibalik rahasia" 

menjadi sesuatu bukan lagi suatu keinginan, tapi KEHARUSAN. Dan sukses dimasadepan pun bukan lagi suatu angan-angan. IT A MUST!!! Maka dari itu, saya ga mau lagi menyia-nyiakan apa yang ada didepan saya, kesempatan apa yang dapat saya peroleh untuk menjadi SESUATU dimasadepan itu, dan tentunya BELAJAR, ga lupa DOA.



TAKE IT SLOW. MAKE IT FLOW. LET IT GLOW 
salam manis dari tikii yang selalu manis

Jumat, 27 Mei 2011

FIX YOU

When you try your best but you don’t succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can’t sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite you bones
And I will try to fix you

And high up above or down below
When you’re too in love to let it go
But if you never try you’ll never know
Just what you’re worth

Lights will guide you home
And ignite you bones
And I will try to fix you



Tears stream down your face
When you lose something you can’t replace
Tears stream down your face
And I

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistake
Tears stream down your face
And I

Lights will guide you home
And ignite you bones
And I will try to fix you





Rabu, 25 Mei 2011

Rengga's birthday...

Hari ini, 25 Mei adalah hari yang (mungkin) amat sangat berharga bagi emmmmm.... Rengga. Hari ini, dia tepat berusia 23 tahun, bukan lagi umur yang muda, tapi juga bukan umur yang tua. Sebenarnya saya ingin memberikan sesuatu yang berharga yang dapat dia kenang, dan selalu diingat. Tapi, entah, saya kok tiba-tiba kehilangan greget saya sama mas-mas aduhai ini, tapi saya tetap masih menaruh harapan padanya. Dan saya ga tau kenapa. Mungkin saya bosan dengan proses ini, proses yang statis ajaa, ga ada perkembangannya sama sekali.

KOMUNIKASI. Yang jelas, satu kata itu yang kurang saya dapatkan dari Rengga. Gimana ga, tiap hari saya hanya berani lewat depan kostnya, tanpa berani mampir, untuk bersilaturahmi, halahhh....

Tiap ketemu dijalan juga saya cuma berani melempar senyum, yang saya setel sedemikan menarik, tanpa berani menyapa, dan tanpa saya peduli apakah si mas mau membalas senyuman saya atau tidak. Karena pernah sekali dua kali saya berpapasan dengan Rengga saat wajah gantengnya amat sangat tidak sedap dimata saya, saya pikir, mungkin si mas lagi ada masalah, sehingga kadang, senyuman selebar apa pun ga bakalan digubris. Ya sudahlah, yang saya sudah beritikad baik, menyapa mas Rengga.

Kemarin saya sempat berpikiran untuk membuat suatu video tentang rengga, dan tentunya tentang saya yang amat sangat memuja sosok mas ganteng aduhai itu. Melalui viedo itu saya pengen bilang, betapa selama ini saya mengagumi sosok aduhai tersebut. Materi untuk video itu pun sudah saya pikirkan baik-baik, tapi entah, kejenuhan ini tiba-tiba saja menghalangi saya. Lalu saya berpikir, apakah video yang akan saya buat itu benar-benar ada artinya, saya sendiri ragu-ragu tentang itu.

Lalu saya buang jauh-jauh semua rencana itu, toh Rengga juga pasti tidak butuh video dari saya, belum apa apa saya sudah pesimis begitu. Sebenarnya saya sama sekali tidak pesimis, saya hanya bosan, terus berharap pada sesuatu yang ga pasti, bahkan menulis entri ini pun saya malas banget. Dan lagi, saya realistis, Rengga mungkin terlalu tinggi buat saya. Tapi nggak tau juga dinggg....

pagi tadi jam 3an, saya sudah siap dengan kalimat-kalimat selamat ulang taun untuknya, tapi yang terkirim, justru kalimat yang jauh dari kata berkesan, biasa saja. 'happy bday mas Rengga, have a blessed day. enjoy your 23..'

-LOVE CAN BE SO BORING---

take it slow, make it flow, let it glow..
salam manis dari tikii yang selalu manis

Selasa, 24 Mei 2011

Aku Ingin Cantik (Aku Benci Tubuhku!)


Kok bisa ya ada cewek secantik itu?
Wajahnya bersih, bersinar, hidungnya bangir mancung, ada lesung pipitnya segala, rambutnya lurus dan tebal hitam banget, kulitnya putih langsat, tinggi semampai, langsing pula! sementara aku? huh, semampai, alias, semeter nggak sampai, hidung mancung kebelakang, gigi berantakan morat marit kayak habis dihajar Badai Katrina, rambut ala Chrisye alias keriting semrawut, kulit hitam langsat (welahh, langsat untuk penyangatan kulit putih ya, hiii..), dan ini ni, ini yang paling menyebalkan di antara tubuhku, nggak ada satu pun yang membanggakan, bertimbun lemak!

Duh Gusti, jan-jane dosa apa dulu ya mama, kok getahnya ditimpakan padaku semua? Nyesel juga aku lahir dari rahim yang nggak bisa buatku seperti cewek sempurna itu tuh. Andai saja mamaku bukan dia, papaku keturunan bule aja, nggak bakal deh aku ketiban kutukan gen ra mutu gini!

Aku sungguh ingat betul, sejak jaman sekolah SD dulu hingga kuliah, selalu saja orang memanggilku si gendut. Gila banget tu orang-orang nggak berperasaan itu ya! Sering banget aku kadang nangis sendirian dikamar ini, menyesali semua keadaan yang begitu sempurna memurukkanku gini. sering banget pula aku mengutuk kedua orang tuaku yang telah menularkan virus jeleknya padaku. Coba pikir deh, salah apa aku, kok bisa bisanya aku nggak memiliki satu bagian pun pada tubuhku ini yang bisa kubanggakan, yang bisa menarik simpatik orang, apalagi, cinta cowok!

Urusan yang satu ini, aku benar-benar high quality loser, 100% nggak laku!Puluhan kali, sudah lupa aku persisnya, aku berusaha mendapatkan perhatian seorang cowok yang kutaksir dengan berbagai cara. Bahkan pernah aku mencampakkan harga diriku dengan nembak duluan pada kakak tingkatku di kampus. Jawabannya enteng, tanpa beban, "Kita temenan aja ya..."

Gusti Allah nggak adil banget padaku! Tangisku meledak berhari-hari. Mataku sembab berat kian menyempurnakan keburukan rupaku. Beberapa teman kuliah mengunjungi kostku dan bertanya mengapa aku nggak kuliah beberapa hari ini. Mereka juga bertanya, mengapa mataku sembab begitu. Ada masalah apa, dan seterusnya. Dan, tau nggak nih, yang bikin hatiku kian tercabik, ketika aku curhat tentang penolakan cowok pujaan hatiku itu, mereka serempak ngakak! terkekeh-kekeh begitu lama, seolah-olah aku ini Sule, yang memang kerjaannya buat ngocok perut orang.
"Ah, gila loe nembak cowok itu..." kata si A
"Kamu salah makan kali, sampai berani mencintai cowok keren, tajir macam dia!" timpal si B
"Loe nggak mikir sih.....," celetuk si C
"Ngaca dongg, loe ini siapa sih, secara loe kan...."

Nggak kuat aku sekedar untuk mengingat kembali kalimat-kalimat lepas ditingkahi kekehan panjang itu. Pendek kata, kira-kira nih, kalau aku paksain dalam bahasa manusia, "Anak gajah kok mimpi jadi Ken Dedes..."

Mending aku mati aja! Mati! Mati! Mati!

Kadang aku berpikir begitu. Bahkan pernah aku telan CTM dua puluh biji sekaligus biar aku tidur panjang dan nggak bangun-bangun lagi. Nyaris juga kutambahi sepuluh peniti biar pada nancapin isi perut buncitku ini! Mati! Buat apa hidup kalau hanya jadi pecundang gini gara-gara hal yang nggak pernah kuinginkan, yang nggak kuasa kutolak, dan nggak mampu kuperbaiki gini?

Tapi aku nggak mati juga. Yang ada malah kepalaku pusing banget saat terbangun, muntah-muntah, lidahku kelu, mataku kabur, jalan kayak melayang. Ah, yang terjadi malah aku jadi tersiksa banget selama dua hari itu! Sementara tubuhku, ya tetap aja gini, nggak berubah secuil pun!

Aku menjalani hidupku sejak jaman SD dulu benar-benar selalu dalam ketersiksaan. Beranjak ABG, saat teman-temanku banyak yang punya pacar, bahkan ada yang pakai sistem ganda, triple, dan kuartet, aku nggak kebagian setengah cowok aja! Aku selalu berharap ada cowok yang mendekatiku, mengatakan "I love you", menjadi pacarku, tapi nggak pernah kejadian sama sekali. Nggak usahlah cowok yang keren ya, sekedar cowok yang buluk, kumal, dekil, jarang mandi, panuan, bisulan, korengan, kere luntung, egois, suka marah-marah, nuntut segala hal dariku, dan sifat-sifat yang serba nggak menyenangkan lainnya, nggak pernah ada yang mendekatiku. Nateeebbbb.... nateeeebbbb.... hikssssss....

Maka kini saat teman kerjaku berhasil merebut supervisorku yang telah kuimpikan dalam setiap tidurku saking ngebetnya aku sama dia, dendam kesumatku semakin membuncah. Kini aku telah bekerja, telah punya uang, telah punya daya bin power! Aku nggak boleh terus tinggal diam begini. Aku harus membalas atas semua kekalahanku selama ini yang diakibatkan oleh kelemahan fisikku ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk menjalani berbagai terapi kecantikan. Mahal sih biayanya, berat sih lakunya, dan makan ati banget rasanya. Tapi, aku sudah bulat amemvonis bahwa biang kerok kekalahanku ini adalah keburukanku! Aku tidak cantik! Tidak menarik! Tidak punya chemistry! Dan ini gara-gara tubuh sialanku ini! Maka semua ini harus segera kubasmi setuntas-tuntasnya, dengan biaya berapa pun, dengan cara apa pun! Aku bahkan siap menggadaikan SK kepegawaianku untuk mengambil kredit di bank demi pendanaan memuluskan cita-citaku membantai ketidakcantikanku ini!

The first theraphy
, sedot lemak. Berkali-kali aku menjalaninya, dan kulihat tampak hasilnya. Lalu didukung dengan diet ketat. Diatas pukul 17.00 WIB aku nggak boleh makan lagi. Minum air putih saja. Makan nasi hanya sekali dalam sehari, siang saja, itu pun dengan porsi yang dijatah ketat. Pagi cukup minum jus buah saja.

Jujur, tersiksa badanku menempuh semua itu. Tapi kekuatan cita-citaku untuk memiliki tubuh langsing menaklukkan semua ketidaknyamanan ini.

Lalu aku mulai suntik silikon. Dibagian bibir, hidung, pipi, pinggang, pantat, dan tentu saja... hiii... malu aku...., dadaku...
Biar montok tok tok dan pada klepek-klepek...

Aku pun ambil terapi kecantikan tanam bulu mata biar mataku tampak lebih sipit dan rekah, rebonding, tato bibir, dan sebagainya. Kayaknya, diklinik kecantikan itu, nggak ada deh satu paket pun yang kulewatkan, yah, maklum, secara kan memang semua bagian tubuhku bermasalah banget.

Hari terus berganti, dan aku makin bangga pada diriku kini. Makin banyak rekan sekantor, relasi, atau pun tamu yang kutau diam-diam melirikku. Ah, ini hanya soal waktu, sebentar lagi sang Arjuna akan turun dari kahyangan dan membawaku terbang dengan sayap-sayap cintanya. cuiiiitttttt.... cuittttt...., indahnya... Aku sering tersenyum sendiri sambil bercermin mengagumi keberhasilan terapi kecantikanku ini.

Dan benarlah seperti yang kubayangkan. Ditengah masih berlanjutnya dietku yang sangat ketat ini, satu per satu hadir lelaki yang mendekatiku. Mengajak kenalan, minta nomer HP-ku, mengirimiku SMS, ada pula yang menghadiahiku kado cantik, mengajakku hang out di kafe, nonton, traveling, atau belanja ke Amplaz. Ah, ah, enaknya jadi cewek cantik gini, gumamku tiap malam sebelum aku terlelap tidur.

Patah tumbuh, hilang berganti. Para lelaki itu datang, hadir, jalan, lalu hilang. Nggak ada satu pun yang bertahan lama, meski ada dua atau tiga lelaki yang sungguh sangat kucintai dan kudamba menjadi suamiku nanti.

Kenapa ya? Kok mereka nggak betah jalan lama denganku ya?

Diam-diam, aku makin sering dihantui pikiran yang satu ini. Apa yang salah denganku ya? Kupatut wajah dan tubuhku dicermin. Ah, nggak ada lagi yang menyebalkan pada fisikku. Dari ujung rambut hingga kaki rasanya semua sudah memikat. Kerja kerasku menjalani semua terapi kecantikan itu benar-benar berhasil seratus persen mengubah segala kekurangan fisikku dulu.

Lalu apanya dong?

Entahlah, aku sendiri juga bingung, dan ujung-ujungnya hanya bergumam bahwa kali aja mereka belum ingin menikah aja. Titik.

Tapi, ucapan tegas laki-laki matang itu, yang sangat kuimpikan sebagai lelaki terakhir dalam pencarian pasangan hidupku, benar-benar membuka cakrawala hatiku. Kata-katanya datar, namun jelas dan terang di kafe yang temaram itu benar-benar sempurna menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu.

"Maaf ya, kamu itu sesungguhnya palsu. Lihatlah sekujur tubuhmu itu. Rambutmu harus direbonding secara berkala,silikonmu harus dikontrol setiap waktu tertentu, dietmu itu harus ditempuh sepanjang hidupmu, tanam bulu mata juga harus dibenerin setiap minggu, dan seterusnya. Coba hitung berapa biaya yang harus kamu keluarkan untuk itu semua? Apakah kamu nyaman dengan semua jenis terapi itu?"

Kata-katanya, sungguh membuatku terdiam, menjadi titik, dan tak bergerak lagi. Dihadapannya, aku sungguh laksana seonggok daging mati yang tak bernyawa apa-apa lagi. Habislah aku ditangannya!

Ia masih melanjutkan, "Setiap lelaki pasti akan berpikir seribu kali untuk memenuhi kebutuhan biaya itu semua, belum gaya hidupmu berdiet ketat begitu yang belum tentu nyaman bagi pasanganmu..."

Gubraaakkkkkk....! Serasa tubuhku lolos tanpa tulang lagi.

"Wajarlah kalau mereka pada kabur semua setelah tau apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri. Dan aku juga nggak akan mampu menempuh semua itu..."

Suaraku tercekat, hanya secuil kata yang berhasil lolos melompat, "Kamu pun akan meninggalkanku....?"

"Ya, maafkan aku, aku nggak cocok dengan semua yang ada padamu. Aku butuh istri yang punya inner beauty, bukan pesona fisik palsu begini. Dan menurutku, kamu nggak memiliki apa yang kucari pada sosok wanita yang akan kupercayakan untuk melahirkan anak-anak keturunanku..."

Ia bangkit, menepuk bahuku sekali, lalu pergi. Suara mobilnya menderum meninggalkanku tercampak sendiri di pojok kafe ini.

Semalaman aku menangis sendirian. Berkali-kali aku bercermin, mencoba mencari pembuktian atas omongan lelaki yang sangat kucintai itu. Kusentuh hidungku, pipiku, daguku, bibirku, mataku, dan seterusnya. Ya Tuhan, ternyata aku sungguh hanyalah seonggok kepalsuan berbiaya tinggi seumur hidup. Ya, aku ingat betul kata-kata ahli kecantikan di klinik itu, bahwa aku harus menempuh terapi silikon itu seumur hidup.
"Kalau tidak, atau meleset sehari saja dari jadwalnya, bisa mengubah struktur presisi organ tubuh anda sendiri, dan itu tidak baik, bahkan berbahaya bagi kesehatan anda."

Berkali-kali kupeluk foto-foto lamaku saat masih jelek itu. Terlihat sosok yang sangat lugu, apa adanya. Itulah aku yang dulu ya, tapi kini? Oh, my God, saat kubandingkan dengan foto terkiniku, sungguh sangat jauh berbeda. Fotoku kini begitu menarik, tapi palsu, butuh uang banyak, menyebabkanku kian terjungkal ke lembah utang yang begitu menyesakkan dada. Kredit di bank belum lunas, aku sudah pinjam kesana kemari untuk biaya terapiku. Semuanya terasa begitu mencekik, dan ini demi kecantikan yang telah kuraih kini.

Dan, sore itu, kejadian yang amat menghancurkanku meledak juga. Sang ahli kecantikan itu dengan tegas berkata, "Wah, nggak bisa ditunda mbak, walau hanya sehari. Anda harus menjalani terapi silikon itu selambatnya satu jam lagi. Kalau nggak, saya nggak bertanggung jawab lho jika terjadi apa-apa pada semua terapi yang sudah ditempuh selama ini."

Duh Gusti, ke mana lagi aku harus mencari uang? Rasanya semua orang yang kukenal sudah kuutangi. Rasanya, sudah habis jugalah harga diriku saat mengemis-ngemis nyari utangan itu.

Aku agak limbung, aku pergi dari klinik itu. Otakku berputar kesana kemari berpikir kepada siapa aku harus dapat uang sore ini. Tapi, hingga pukul sembilan malam, aku nggak kunjung dapat uang itu. Akhrinya, aku pasrah dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dan berdoa semoga besok aku bisa dapat uang itu, meski entah dari siapa.

Tapi pagi ini, saat aku bangun tidur dan berjalan lelah menuju cermin, sontak mataku terbeliak. Bola mataku seolah akan melompat dari rongganya. "Tidaaaaakkkkk...!" pekikku. "Ya Tuhan, tidakkkkk....!"

Aku shock sedahsyat-dahsyatnya shock! Kulihat dengan mata tak berkedip, mulai dari kulit hidung, pipi, dan dagu, memerah darah, sebagian ada yang terkelupas. Buru-buru kubuka bajuku, oh my God..., ternyata dadaku juga! Pantatku juga! Hampir semua bagian tubuhku mengalami kondisi yang sama.

Buru-buru aku mengenakan baju, lalu naik taksi ke klinik itu. Gila! Inikah akibat aku tidak terapi tepat waktu itu? Sampai diklinik ternyata masih tutup. Ah, ini masih pukul 07.00 WIB, dan klinik itu baru buka pukul 10.00 WIB. Ya Tuhan, gimana ini? Apa yang harus kulakukan?

Kuputuskan menunggu saja didepan klinik ini. Dibangku kayu yang sangat lusuh ini, entah milik siapa, kuhempaskan pantatku. Otakku berkeliaran kesana kemari dalam dera ketakutan yang sungguh membahana. Tapi belum lama aku duduk, seorang lelaki tua mendekatiku dan tanpa ba bi bu membentakku, "Bangun, dasar orang gila! Pergi sana, ini mau kusapu...!"

"Apa Pak?" sergahku penuh emosi. Orang gila? Aku dikatain gila?

"Pergi sana, sudah siang, keburu telat aku nyapunya. Sana pergi...!" Kali ini bahkan dia menyaruk-nyarukkan sapu lidinya kearahku.

"Hai Pak, apa-apaan ini...?!" pekikku. Beberapa pasang mata yang melintas, menoleh, tapi hanya sekilas, lalu menghilang lagi.

"Aku bukan orang gila, aku pasien klinik ini, lagi nunggu buka...!"

"Dasar sinting!" katanya lagi, "Wajah berantakan gitu mau berobat. Ayo sana pergi, kupukul beneran ni kalau nggak bangun juga!" Sapunya diangkat tinggi, siap menggebukku.

Brengsek nih orang, gumamku sambil bangkit menghindar. Kudekati motor yang parkir dekat trotoar ini, kujulurkan wajahku ke spionnya. Ya Tuhan! Aku memekik kuat bak serigala melolong. Kulit wajahku terkelupas semua, menyisakan belang-belang seperti sisik ikan rontok.

"Tidakkkkkk...!" teriakku sekuat tenaga.

Gubraakk! Pingsan. Saat siuman, tau tau aku telah berada disebuah ruangan yang sangat dingin dan sepi ini. Pintunya terkunci, entah siapa yang mengunciku disini. Kugedor-gedor pintunya, sekeras-kerasnya, sampai tanganku terasa sakit. Tak ada tanda-tanda seseorang akan membuka pintu ini.

Aku terluruh menyerah kemudian. Mataku memedas, mengingat semua kejadian buruk yang menimpaku. Air mataku tumpah begitu derasnya. Duh Gusti, mengapa ini terjadi padaku? Mengapa dulu aku nggak memikirkan resiko seperti ini? Mengapa dulu aku hanya menyesali anugerah tubuh jelek yang kubenci itu?

Mama, dimana kamu? Aku takut menghadapi semua yang masih akan terjadi pada tubuhku ini...

Mama, aku ingin tubuhku yang asli kembali...

Mama.... mama...

terdengar suara pintu dibuka. Dua orang lelaki berseragam masuk, menatapku lekat-lekat. "Sudah siuman dia..."

"Ya ntar kalau kambuh lagi, disuntik penenang lagi aja ya," sahut temannya.

"Ya, Pak."

Belum sempat aku bertanya, pintu kembali ditutup. Tapi sepintas aku berhasil menangkap tulisan kecil didada kiri seragam dua lelaki itu, "Rumah Sakit Jiwa!"

"Tidaaakk....!" teriakku sambil menggedor pintu. "Aku nggak sakit jiwa! Aku butuh terapi kecantikan...!"

"Huuusss, berisik, diem atau mau kusuntik penenang aja!" sahut lelaki itu dari balik jendela jeruji ini.

"Pak, saya nggak gila..."

Ia dan temannya terbahak, "Mana ada orang gila sadar kalau dirinya gila!" cetusnya sambil melangkah pergi, tak menggubris sama sekali teriakan-teriakanku.

Ya Tuhan! Duhai Ibu! Andai aku tidak melakukan semua kegilaan ini, tidak dibekap obsesi yang membakar semua taguran rasionalitasku tentang presepsi cantik dan menarik, yang telah melumat dengan sempurna semua anugerah hidupku, niscaya kini aku akan tetap eksis sebagai manusia, dengan segala kekurangannya, yang pasti telah disiapkan baginya seorang Arjuna oleh Tuhan, yang akan menjadikan hidup terasa nyaman dan menyenangkan, kendati dengan hidung pesek, kulit hitam, mata bulak, dan sebagainya!

Inikah gerangan apa yang dulu pernah berkali-kali dibisikkan ibu dengan mata sembabnya setiap kali aku mencecarnya dengan amarah-amarah, mengapa aku dilahirkan dari rahimnya yang menjadikanku buruk dan nggak menarik?

"Nduk, syukuri semua apa yang diberikan Tuhan padamu, diluar sana sangat banyak orang yang tidak sesempurna sepertimu, tanpa mata, tanpa pendengaran, tanpa tangan atau kaki, bahkan tanpa nyawa. Syukuri ya nduk, jangan ngersulo terus, jangan ngeluh terus, sebab kalau hanya menuruti nafsunya, manusia itu nggak akan pernah cukup, kecuali dia yang sudah berada dibawah cungkup...."

*Written by, Edi Mulyono*



Miris, amat sangat miris cerita yang satu ini. Dari 14 cerita yang ditulis dalam bukunya, cerita ini adalah cerita yang amat sangat saya sukai, karena percaya nggak percaya, cerita ini tuh saya banget. Cerita-cerita beliau yang lain pun pasti kamu banget, atau kita banget. Semua cerita yang ada bener-bener jujur, menggedor, dan inspiratif, setiap kita niscaya mengalaminya!

Ada banyak sekali hal berharga yang saya temui dalam cerita diatas itu. Ada banyak sekali pelajaran-pelajaran yang bisa saya petik dari sana. Sosok 'aku' dalam cerita diatas itu, memang saya banget, bak itik buruk rupa yang bermimpi dapat meraih bulan. Meskipun saat ini, saya menyadari benar, bahwa saya adalah manusia yang berharga.

Yang namanya manusia pasti ada aja ambisinya, saya pun juga seperti itu. Hanya saja, manusia kadang tidak REALISTIS, dan cenderung lebih senang MEMAKSAKAN KEHENDAKNYA. Belajar dari cerita itu, adalah belajar menjadi diri sendiri, dan belajar menerima apa yang Tuhan berikan, meskipun kadang, nggak sesuai dengan apa yang kita mau, atau nggak sebagus milik orang lain.

Apa adanya, dan jangan maksa.

Tapi itu bukan berarti kita sebagai manusia nggak boleh berubah, nggak boleh melawan takdir. Boleh boleh ajaa kok, asal sesuai dengan kapasitas kita.
Kalo maksain kehendak banget ya gitu tuh jadinya, disangkain orang gila, dan masuk rumah sakit jiwa.

the other things, BERSYUKUR!
yang satu ini, mutlak, harus, wajib diucapkan, dan dilakukan dalam hidup, supaya kita tau, sudah banyak yang Tuhan berikan pada manusia. Dan diluar sana banyak yang lebih kekurangan dari kita, karena selalu melihat pada orang lain yang lebih dari kita. Dan yang paling pentinggg, adalah THINK BEFORE YOU DO!!! Pikirkan bener-bener resiko apa yang akan kita tempuh seiring dengan perubahan kita itu, sanggupkah kita menjalani semua resiko itu????

untuk direnungkan mulai dari detik ini, APAKAH KITA SUDAH BERSYUKUR??


take it slow. make it flow. let it glow..
salam manis dari tikii yang selalu manis.

THE SHADOW OF CORPSE MY NEIGBOUR AND MY PRAY

It’s not funny experience, may scariest’s experience. I don’t know, but it’s so scary for me. I can’t sleep at the night, if I remember it.
One day, at holiday come, I was gone to my grandmother house. Me and my family go to upcountry at the morning and arrive there at the evening. My grandmother’s house place is region in Gunung Kidul, Jogjakarta. The region is so gloomy and nice although the weather is so hot. But, I was very happy to visit that place again.
My grandmother’s live together with my aunt and my uncle. We’re all love my lovely grandmother.
That day my aunt said that her neigbour was die on this morning. They were in sadness atmosphere. At that evening mom, dad, aunt, uncle, I, and my brother were visit to our neigbour. Arrive there, I look the face of our neighbour was die. His corpse lying in a coffin, and I hear a snore voice. I feel scary. When I close my eyes, I feel that everybody leave me in that room. I’m alone without the other people. I don’t want to stay in this situation, then I open my eyes. And I see how many people ware sad. I see and hear some people cry. After that, mom, and dad invite me and my brother to go home, meanwhile my aunt, and uncle was stay there.
At the night, after dinner, I was dizzy. I saying to mom, that I was dizzy, but my mom not hear me. She was speaking with dad, brother, aunt, uncle, and also grandmother in balcony of my grandmother’s house. I’m sensitive, so I feel sad. I always feel sad and cry, if no one people to meddle me. Then I was cry, and I said to their, that I was sick, I was dizzy. After that mom give me a medicine, and my aunt invite me to rest in a room. I roomy, because my family was meddle about me. I was tired, and my head feel so heavy. I want to sleep, but I can’t do it. I try to close my eyes, and go to sleep.
When I close my eyes, the shadow of corpse our neighbour appear in my mind. His face, his coffin, his snore voice, and the sadness atmosphere. I scary and open my eyes again, and I look around. I just alone in that room, mom and aunt leave me, so that I can sleep quiet.
I quiet for long time, then I look to the ceiling. In the ceiling, I look the face of corpse our neighbour, but I see he look at me. I was so scary, I want to scream, but I can’t do that. I can’t to scream to request a support.
In my heart, I say to God “Father, help me! I was so scary, and I surrender to You, God. I can’t do anything without You”. And like a miracle the face of my neighbour was lost, and I'm not found the face. I thanks to God for His miracle for me. I believe that my God loves me so much.
Suddenly, I remember that I not pray to our salvation. I remember not yet pray since last night. I’m not spoken with God. I forget to address Him. I sit at the side of my bed. I pray God to protect my family and I. grandmother, mom, dad, brother, uncle, aunt, and all my families. From my experience, I know that I can’t live without God, and pray. My God is King, and pray is my breath. I know that God, want me to always surrender to Him, for the rest of my life. And this is I do right now, tomorrow, and forever, surrender all to my God. The guardian of my life.

Minggu, 15 Mei 2011

Cinta (bukan) Hanya Kata



angin yang membelai
rengkuh kita di pantai
ku dekap dirimu
dalam haru membiru
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
kau tanya masihkah
rasa itu bertahta
sekian lamanya
kita tempuh jalan berdua

seandainya dunia berhenti berputar
hati tetap ku jaga tiada pernah ku ingkar
bagiku semula cinta hanya kata
sampai kau datang jua (kau datang jua)
dan memberiknya makna

jangan kau meragu
akan arti hadirmu
bagiku engkaulah biadadari
satu untukku

seandainya dunia berhenti berputar
hati tetap ku jaga tiada pernah ku ingkar
bagiku semula cinta hanya kata
sampai kau datang jua (kau datang jua)
dan memberiknya makna


love feels so right, love feels so strong
hati tetap ku jaga
love feels so right, love feels so strong

seandainya dunia berhenti berputar
hati tetap ku jaga tiada pernah ku ingkar
bagiku semula cinta hanya kata
sampai kau datang jua (kau datang jua)
dan memberiknya makna

(seandainya berputar)
hati tetap ku jaga tiada pernah teringkar
bagiku semula cinta hanya kata
sampai kau datang jua dan memberiknya makna

Source: http://liriklaguindonesia.net/k/kla-project/kla-project-cinta-bukan-hanya-kata/#ixzz1MSmposwF