WELCOME TO MY BLOG

blog ini 'sedikit' berbeda dengan blog saya sebelumnya. masih blog abal-abal dengan beragam makna hahaaa...

enjoy.

salam manis dari tikii yang selalu manis...

Selasa, 24 Mei 2011

Aku Ingin Cantik (Aku Benci Tubuhku!)


Kok bisa ya ada cewek secantik itu?
Wajahnya bersih, bersinar, hidungnya bangir mancung, ada lesung pipitnya segala, rambutnya lurus dan tebal hitam banget, kulitnya putih langsat, tinggi semampai, langsing pula! sementara aku? huh, semampai, alias, semeter nggak sampai, hidung mancung kebelakang, gigi berantakan morat marit kayak habis dihajar Badai Katrina, rambut ala Chrisye alias keriting semrawut, kulit hitam langsat (welahh, langsat untuk penyangatan kulit putih ya, hiii..), dan ini ni, ini yang paling menyebalkan di antara tubuhku, nggak ada satu pun yang membanggakan, bertimbun lemak!

Duh Gusti, jan-jane dosa apa dulu ya mama, kok getahnya ditimpakan padaku semua? Nyesel juga aku lahir dari rahim yang nggak bisa buatku seperti cewek sempurna itu tuh. Andai saja mamaku bukan dia, papaku keturunan bule aja, nggak bakal deh aku ketiban kutukan gen ra mutu gini!

Aku sungguh ingat betul, sejak jaman sekolah SD dulu hingga kuliah, selalu saja orang memanggilku si gendut. Gila banget tu orang-orang nggak berperasaan itu ya! Sering banget aku kadang nangis sendirian dikamar ini, menyesali semua keadaan yang begitu sempurna memurukkanku gini. sering banget pula aku mengutuk kedua orang tuaku yang telah menularkan virus jeleknya padaku. Coba pikir deh, salah apa aku, kok bisa bisanya aku nggak memiliki satu bagian pun pada tubuhku ini yang bisa kubanggakan, yang bisa menarik simpatik orang, apalagi, cinta cowok!

Urusan yang satu ini, aku benar-benar high quality loser, 100% nggak laku!Puluhan kali, sudah lupa aku persisnya, aku berusaha mendapatkan perhatian seorang cowok yang kutaksir dengan berbagai cara. Bahkan pernah aku mencampakkan harga diriku dengan nembak duluan pada kakak tingkatku di kampus. Jawabannya enteng, tanpa beban, "Kita temenan aja ya..."

Gusti Allah nggak adil banget padaku! Tangisku meledak berhari-hari. Mataku sembab berat kian menyempurnakan keburukan rupaku. Beberapa teman kuliah mengunjungi kostku dan bertanya mengapa aku nggak kuliah beberapa hari ini. Mereka juga bertanya, mengapa mataku sembab begitu. Ada masalah apa, dan seterusnya. Dan, tau nggak nih, yang bikin hatiku kian tercabik, ketika aku curhat tentang penolakan cowok pujaan hatiku itu, mereka serempak ngakak! terkekeh-kekeh begitu lama, seolah-olah aku ini Sule, yang memang kerjaannya buat ngocok perut orang.
"Ah, gila loe nembak cowok itu..." kata si A
"Kamu salah makan kali, sampai berani mencintai cowok keren, tajir macam dia!" timpal si B
"Loe nggak mikir sih.....," celetuk si C
"Ngaca dongg, loe ini siapa sih, secara loe kan...."

Nggak kuat aku sekedar untuk mengingat kembali kalimat-kalimat lepas ditingkahi kekehan panjang itu. Pendek kata, kira-kira nih, kalau aku paksain dalam bahasa manusia, "Anak gajah kok mimpi jadi Ken Dedes..."

Mending aku mati aja! Mati! Mati! Mati!

Kadang aku berpikir begitu. Bahkan pernah aku telan CTM dua puluh biji sekaligus biar aku tidur panjang dan nggak bangun-bangun lagi. Nyaris juga kutambahi sepuluh peniti biar pada nancapin isi perut buncitku ini! Mati! Buat apa hidup kalau hanya jadi pecundang gini gara-gara hal yang nggak pernah kuinginkan, yang nggak kuasa kutolak, dan nggak mampu kuperbaiki gini?

Tapi aku nggak mati juga. Yang ada malah kepalaku pusing banget saat terbangun, muntah-muntah, lidahku kelu, mataku kabur, jalan kayak melayang. Ah, yang terjadi malah aku jadi tersiksa banget selama dua hari itu! Sementara tubuhku, ya tetap aja gini, nggak berubah secuil pun!

Aku menjalani hidupku sejak jaman SD dulu benar-benar selalu dalam ketersiksaan. Beranjak ABG, saat teman-temanku banyak yang punya pacar, bahkan ada yang pakai sistem ganda, triple, dan kuartet, aku nggak kebagian setengah cowok aja! Aku selalu berharap ada cowok yang mendekatiku, mengatakan "I love you", menjadi pacarku, tapi nggak pernah kejadian sama sekali. Nggak usahlah cowok yang keren ya, sekedar cowok yang buluk, kumal, dekil, jarang mandi, panuan, bisulan, korengan, kere luntung, egois, suka marah-marah, nuntut segala hal dariku, dan sifat-sifat yang serba nggak menyenangkan lainnya, nggak pernah ada yang mendekatiku. Nateeebbbb.... nateeeebbbb.... hikssssss....

Maka kini saat teman kerjaku berhasil merebut supervisorku yang telah kuimpikan dalam setiap tidurku saking ngebetnya aku sama dia, dendam kesumatku semakin membuncah. Kini aku telah bekerja, telah punya uang, telah punya daya bin power! Aku nggak boleh terus tinggal diam begini. Aku harus membalas atas semua kekalahanku selama ini yang diakibatkan oleh kelemahan fisikku ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk menjalani berbagai terapi kecantikan. Mahal sih biayanya, berat sih lakunya, dan makan ati banget rasanya. Tapi, aku sudah bulat amemvonis bahwa biang kerok kekalahanku ini adalah keburukanku! Aku tidak cantik! Tidak menarik! Tidak punya chemistry! Dan ini gara-gara tubuh sialanku ini! Maka semua ini harus segera kubasmi setuntas-tuntasnya, dengan biaya berapa pun, dengan cara apa pun! Aku bahkan siap menggadaikan SK kepegawaianku untuk mengambil kredit di bank demi pendanaan memuluskan cita-citaku membantai ketidakcantikanku ini!

The first theraphy
, sedot lemak. Berkali-kali aku menjalaninya, dan kulihat tampak hasilnya. Lalu didukung dengan diet ketat. Diatas pukul 17.00 WIB aku nggak boleh makan lagi. Minum air putih saja. Makan nasi hanya sekali dalam sehari, siang saja, itu pun dengan porsi yang dijatah ketat. Pagi cukup minum jus buah saja.

Jujur, tersiksa badanku menempuh semua itu. Tapi kekuatan cita-citaku untuk memiliki tubuh langsing menaklukkan semua ketidaknyamanan ini.

Lalu aku mulai suntik silikon. Dibagian bibir, hidung, pipi, pinggang, pantat, dan tentu saja... hiii... malu aku...., dadaku...
Biar montok tok tok dan pada klepek-klepek...

Aku pun ambil terapi kecantikan tanam bulu mata biar mataku tampak lebih sipit dan rekah, rebonding, tato bibir, dan sebagainya. Kayaknya, diklinik kecantikan itu, nggak ada deh satu paket pun yang kulewatkan, yah, maklum, secara kan memang semua bagian tubuhku bermasalah banget.

Hari terus berganti, dan aku makin bangga pada diriku kini. Makin banyak rekan sekantor, relasi, atau pun tamu yang kutau diam-diam melirikku. Ah, ini hanya soal waktu, sebentar lagi sang Arjuna akan turun dari kahyangan dan membawaku terbang dengan sayap-sayap cintanya. cuiiiitttttt.... cuittttt...., indahnya... Aku sering tersenyum sendiri sambil bercermin mengagumi keberhasilan terapi kecantikanku ini.

Dan benarlah seperti yang kubayangkan. Ditengah masih berlanjutnya dietku yang sangat ketat ini, satu per satu hadir lelaki yang mendekatiku. Mengajak kenalan, minta nomer HP-ku, mengirimiku SMS, ada pula yang menghadiahiku kado cantik, mengajakku hang out di kafe, nonton, traveling, atau belanja ke Amplaz. Ah, ah, enaknya jadi cewek cantik gini, gumamku tiap malam sebelum aku terlelap tidur.

Patah tumbuh, hilang berganti. Para lelaki itu datang, hadir, jalan, lalu hilang. Nggak ada satu pun yang bertahan lama, meski ada dua atau tiga lelaki yang sungguh sangat kucintai dan kudamba menjadi suamiku nanti.

Kenapa ya? Kok mereka nggak betah jalan lama denganku ya?

Diam-diam, aku makin sering dihantui pikiran yang satu ini. Apa yang salah denganku ya? Kupatut wajah dan tubuhku dicermin. Ah, nggak ada lagi yang menyebalkan pada fisikku. Dari ujung rambut hingga kaki rasanya semua sudah memikat. Kerja kerasku menjalani semua terapi kecantikan itu benar-benar berhasil seratus persen mengubah segala kekurangan fisikku dulu.

Lalu apanya dong?

Entahlah, aku sendiri juga bingung, dan ujung-ujungnya hanya bergumam bahwa kali aja mereka belum ingin menikah aja. Titik.

Tapi, ucapan tegas laki-laki matang itu, yang sangat kuimpikan sebagai lelaki terakhir dalam pencarian pasangan hidupku, benar-benar membuka cakrawala hatiku. Kata-katanya datar, namun jelas dan terang di kafe yang temaram itu benar-benar sempurna menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu.

"Maaf ya, kamu itu sesungguhnya palsu. Lihatlah sekujur tubuhmu itu. Rambutmu harus direbonding secara berkala,silikonmu harus dikontrol setiap waktu tertentu, dietmu itu harus ditempuh sepanjang hidupmu, tanam bulu mata juga harus dibenerin setiap minggu, dan seterusnya. Coba hitung berapa biaya yang harus kamu keluarkan untuk itu semua? Apakah kamu nyaman dengan semua jenis terapi itu?"

Kata-katanya, sungguh membuatku terdiam, menjadi titik, dan tak bergerak lagi. Dihadapannya, aku sungguh laksana seonggok daging mati yang tak bernyawa apa-apa lagi. Habislah aku ditangannya!

Ia masih melanjutkan, "Setiap lelaki pasti akan berpikir seribu kali untuk memenuhi kebutuhan biaya itu semua, belum gaya hidupmu berdiet ketat begitu yang belum tentu nyaman bagi pasanganmu..."

Gubraaakkkkkk....! Serasa tubuhku lolos tanpa tulang lagi.

"Wajarlah kalau mereka pada kabur semua setelah tau apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri. Dan aku juga nggak akan mampu menempuh semua itu..."

Suaraku tercekat, hanya secuil kata yang berhasil lolos melompat, "Kamu pun akan meninggalkanku....?"

"Ya, maafkan aku, aku nggak cocok dengan semua yang ada padamu. Aku butuh istri yang punya inner beauty, bukan pesona fisik palsu begini. Dan menurutku, kamu nggak memiliki apa yang kucari pada sosok wanita yang akan kupercayakan untuk melahirkan anak-anak keturunanku..."

Ia bangkit, menepuk bahuku sekali, lalu pergi. Suara mobilnya menderum meninggalkanku tercampak sendiri di pojok kafe ini.

Semalaman aku menangis sendirian. Berkali-kali aku bercermin, mencoba mencari pembuktian atas omongan lelaki yang sangat kucintai itu. Kusentuh hidungku, pipiku, daguku, bibirku, mataku, dan seterusnya. Ya Tuhan, ternyata aku sungguh hanyalah seonggok kepalsuan berbiaya tinggi seumur hidup. Ya, aku ingat betul kata-kata ahli kecantikan di klinik itu, bahwa aku harus menempuh terapi silikon itu seumur hidup.
"Kalau tidak, atau meleset sehari saja dari jadwalnya, bisa mengubah struktur presisi organ tubuh anda sendiri, dan itu tidak baik, bahkan berbahaya bagi kesehatan anda."

Berkali-kali kupeluk foto-foto lamaku saat masih jelek itu. Terlihat sosok yang sangat lugu, apa adanya. Itulah aku yang dulu ya, tapi kini? Oh, my God, saat kubandingkan dengan foto terkiniku, sungguh sangat jauh berbeda. Fotoku kini begitu menarik, tapi palsu, butuh uang banyak, menyebabkanku kian terjungkal ke lembah utang yang begitu menyesakkan dada. Kredit di bank belum lunas, aku sudah pinjam kesana kemari untuk biaya terapiku. Semuanya terasa begitu mencekik, dan ini demi kecantikan yang telah kuraih kini.

Dan, sore itu, kejadian yang amat menghancurkanku meledak juga. Sang ahli kecantikan itu dengan tegas berkata, "Wah, nggak bisa ditunda mbak, walau hanya sehari. Anda harus menjalani terapi silikon itu selambatnya satu jam lagi. Kalau nggak, saya nggak bertanggung jawab lho jika terjadi apa-apa pada semua terapi yang sudah ditempuh selama ini."

Duh Gusti, ke mana lagi aku harus mencari uang? Rasanya semua orang yang kukenal sudah kuutangi. Rasanya, sudah habis jugalah harga diriku saat mengemis-ngemis nyari utangan itu.

Aku agak limbung, aku pergi dari klinik itu. Otakku berputar kesana kemari berpikir kepada siapa aku harus dapat uang sore ini. Tapi, hingga pukul sembilan malam, aku nggak kunjung dapat uang itu. Akhrinya, aku pasrah dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dan berdoa semoga besok aku bisa dapat uang itu, meski entah dari siapa.

Tapi pagi ini, saat aku bangun tidur dan berjalan lelah menuju cermin, sontak mataku terbeliak. Bola mataku seolah akan melompat dari rongganya. "Tidaaaaakkkkk...!" pekikku. "Ya Tuhan, tidakkkkk....!"

Aku shock sedahsyat-dahsyatnya shock! Kulihat dengan mata tak berkedip, mulai dari kulit hidung, pipi, dan dagu, memerah darah, sebagian ada yang terkelupas. Buru-buru kubuka bajuku, oh my God..., ternyata dadaku juga! Pantatku juga! Hampir semua bagian tubuhku mengalami kondisi yang sama.

Buru-buru aku mengenakan baju, lalu naik taksi ke klinik itu. Gila! Inikah akibat aku tidak terapi tepat waktu itu? Sampai diklinik ternyata masih tutup. Ah, ini masih pukul 07.00 WIB, dan klinik itu baru buka pukul 10.00 WIB. Ya Tuhan, gimana ini? Apa yang harus kulakukan?

Kuputuskan menunggu saja didepan klinik ini. Dibangku kayu yang sangat lusuh ini, entah milik siapa, kuhempaskan pantatku. Otakku berkeliaran kesana kemari dalam dera ketakutan yang sungguh membahana. Tapi belum lama aku duduk, seorang lelaki tua mendekatiku dan tanpa ba bi bu membentakku, "Bangun, dasar orang gila! Pergi sana, ini mau kusapu...!"

"Apa Pak?" sergahku penuh emosi. Orang gila? Aku dikatain gila?

"Pergi sana, sudah siang, keburu telat aku nyapunya. Sana pergi...!" Kali ini bahkan dia menyaruk-nyarukkan sapu lidinya kearahku.

"Hai Pak, apa-apaan ini...?!" pekikku. Beberapa pasang mata yang melintas, menoleh, tapi hanya sekilas, lalu menghilang lagi.

"Aku bukan orang gila, aku pasien klinik ini, lagi nunggu buka...!"

"Dasar sinting!" katanya lagi, "Wajah berantakan gitu mau berobat. Ayo sana pergi, kupukul beneran ni kalau nggak bangun juga!" Sapunya diangkat tinggi, siap menggebukku.

Brengsek nih orang, gumamku sambil bangkit menghindar. Kudekati motor yang parkir dekat trotoar ini, kujulurkan wajahku ke spionnya. Ya Tuhan! Aku memekik kuat bak serigala melolong. Kulit wajahku terkelupas semua, menyisakan belang-belang seperti sisik ikan rontok.

"Tidakkkkkk...!" teriakku sekuat tenaga.

Gubraakk! Pingsan. Saat siuman, tau tau aku telah berada disebuah ruangan yang sangat dingin dan sepi ini. Pintunya terkunci, entah siapa yang mengunciku disini. Kugedor-gedor pintunya, sekeras-kerasnya, sampai tanganku terasa sakit. Tak ada tanda-tanda seseorang akan membuka pintu ini.

Aku terluruh menyerah kemudian. Mataku memedas, mengingat semua kejadian buruk yang menimpaku. Air mataku tumpah begitu derasnya. Duh Gusti, mengapa ini terjadi padaku? Mengapa dulu aku nggak memikirkan resiko seperti ini? Mengapa dulu aku hanya menyesali anugerah tubuh jelek yang kubenci itu?

Mama, dimana kamu? Aku takut menghadapi semua yang masih akan terjadi pada tubuhku ini...

Mama, aku ingin tubuhku yang asli kembali...

Mama.... mama...

terdengar suara pintu dibuka. Dua orang lelaki berseragam masuk, menatapku lekat-lekat. "Sudah siuman dia..."

"Ya ntar kalau kambuh lagi, disuntik penenang lagi aja ya," sahut temannya.

"Ya, Pak."

Belum sempat aku bertanya, pintu kembali ditutup. Tapi sepintas aku berhasil menangkap tulisan kecil didada kiri seragam dua lelaki itu, "Rumah Sakit Jiwa!"

"Tidaaakk....!" teriakku sambil menggedor pintu. "Aku nggak sakit jiwa! Aku butuh terapi kecantikan...!"

"Huuusss, berisik, diem atau mau kusuntik penenang aja!" sahut lelaki itu dari balik jendela jeruji ini.

"Pak, saya nggak gila..."

Ia dan temannya terbahak, "Mana ada orang gila sadar kalau dirinya gila!" cetusnya sambil melangkah pergi, tak menggubris sama sekali teriakan-teriakanku.

Ya Tuhan! Duhai Ibu! Andai aku tidak melakukan semua kegilaan ini, tidak dibekap obsesi yang membakar semua taguran rasionalitasku tentang presepsi cantik dan menarik, yang telah melumat dengan sempurna semua anugerah hidupku, niscaya kini aku akan tetap eksis sebagai manusia, dengan segala kekurangannya, yang pasti telah disiapkan baginya seorang Arjuna oleh Tuhan, yang akan menjadikan hidup terasa nyaman dan menyenangkan, kendati dengan hidung pesek, kulit hitam, mata bulak, dan sebagainya!

Inikah gerangan apa yang dulu pernah berkali-kali dibisikkan ibu dengan mata sembabnya setiap kali aku mencecarnya dengan amarah-amarah, mengapa aku dilahirkan dari rahimnya yang menjadikanku buruk dan nggak menarik?

"Nduk, syukuri semua apa yang diberikan Tuhan padamu, diluar sana sangat banyak orang yang tidak sesempurna sepertimu, tanpa mata, tanpa pendengaran, tanpa tangan atau kaki, bahkan tanpa nyawa. Syukuri ya nduk, jangan ngersulo terus, jangan ngeluh terus, sebab kalau hanya menuruti nafsunya, manusia itu nggak akan pernah cukup, kecuali dia yang sudah berada dibawah cungkup...."

*Written by, Edi Mulyono*



Miris, amat sangat miris cerita yang satu ini. Dari 14 cerita yang ditulis dalam bukunya, cerita ini adalah cerita yang amat sangat saya sukai, karena percaya nggak percaya, cerita ini tuh saya banget. Cerita-cerita beliau yang lain pun pasti kamu banget, atau kita banget. Semua cerita yang ada bener-bener jujur, menggedor, dan inspiratif, setiap kita niscaya mengalaminya!

Ada banyak sekali hal berharga yang saya temui dalam cerita diatas itu. Ada banyak sekali pelajaran-pelajaran yang bisa saya petik dari sana. Sosok 'aku' dalam cerita diatas itu, memang saya banget, bak itik buruk rupa yang bermimpi dapat meraih bulan. Meskipun saat ini, saya menyadari benar, bahwa saya adalah manusia yang berharga.

Yang namanya manusia pasti ada aja ambisinya, saya pun juga seperti itu. Hanya saja, manusia kadang tidak REALISTIS, dan cenderung lebih senang MEMAKSAKAN KEHENDAKNYA. Belajar dari cerita itu, adalah belajar menjadi diri sendiri, dan belajar menerima apa yang Tuhan berikan, meskipun kadang, nggak sesuai dengan apa yang kita mau, atau nggak sebagus milik orang lain.

Apa adanya, dan jangan maksa.

Tapi itu bukan berarti kita sebagai manusia nggak boleh berubah, nggak boleh melawan takdir. Boleh boleh ajaa kok, asal sesuai dengan kapasitas kita.
Kalo maksain kehendak banget ya gitu tuh jadinya, disangkain orang gila, dan masuk rumah sakit jiwa.

the other things, BERSYUKUR!
yang satu ini, mutlak, harus, wajib diucapkan, dan dilakukan dalam hidup, supaya kita tau, sudah banyak yang Tuhan berikan pada manusia. Dan diluar sana banyak yang lebih kekurangan dari kita, karena selalu melihat pada orang lain yang lebih dari kita. Dan yang paling pentinggg, adalah THINK BEFORE YOU DO!!! Pikirkan bener-bener resiko apa yang akan kita tempuh seiring dengan perubahan kita itu, sanggupkah kita menjalani semua resiko itu????

untuk direnungkan mulai dari detik ini, APAKAH KITA SUDAH BERSYUKUR??


take it slow. make it flow. let it glow..
salam manis dari tikii yang selalu manis.

7 komentar:

  1. Curhatnya sangat menyentuh sekali.

    BalasHapus
  2. Syukuri.nikmati.jalani.man shabara zhafira

    BalasHapus
  3. Aku pernah punya mimpi buat jadi kurus langsing putih langsat kaki mulus wajah bersih. Tapi, aku yakin ada yang mau nerima aku apa adanga setelah baca ini. Makasih, karena ini aku bisa lebih percaya diri walaupun aku gendut. Semoga dimasa depan aku gak kayak gitu, aku bisa menjadi wanita karier yang ideal dan gak nuntut apa2, gak yg neko2 sama diri sendiri...

    BalasHapus
  4. Ceritanya nyentuh bgt.. Sampai atu tersadar dari mimpiku..

    BalasHapus
  5. Ceritanya nyentuh bgt.. Sampai atu tersadar dari mimpiku..

    BalasHapus
  6. Wah aku banget ini :") paling ngga adem pikiranku baca ini

    BalasHapus